![]() |
| KH Abd Rahman Al Jambuany |
Jember, NU Online
Ilmu
yang banyak belum tentu barakah. Seseorang yang cerdas dengan titel
akademik yang mengular, tidak ada jaminan bahwa ilmu yang dimiliki bisa
bermanfaat untuk dirinya sendiri, apalagi bagi orang lain. Sebab,
bermanfaat tidaknya ilmu, tergantung pada barakah ilmu itu sendiri.
Hal
tersebut diungkapkan Rais Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU)
Kalisat, KH Abd Rahman Al Jambuany saat memberikan taushiyah Ramadhan di
Masjid Baitur Rahmat, Desa Biting, Kecamatan Arjasa, Jember, Rabu
(30/5).
Menurutnya, ilmu yang barakah tidak
semata-mata terletak pada kemanfaatannya, tapi juga dengan ilmu itu
pemiliknya bisa lebih dekat kepada Allah.
“Jadi
kriterianya ilmu yang barakah, selain bermanfaat juga harus menjadi
sarana bagi pemiliknya untuk lebih dekat kepada Allah. Percuma pinter
tapi jauh dari Allah,” tukasnya.
Ia
menambahkan, orang tua wajib memberikan pendidikan yang layak bagi
anaknya. Ilmu yang barakah diperoleh melalui pendidikan yang sesuai
dengan tuntunan Islam. Pengasuh Pesantren Nurul Huda, Kalisat itu pun
mengutip dawuh Ibnu Abbas bahwa orang tua wajib memberikan pendidikan
anaknya dengan dua hal. Yaitu dengan ilmu agama dan ilmu akhlak.
“Jadi
akhlak kita, akhlak orang tua kita kepada guru kita, juga sangat
menentukan apakah ilmu kita kelak barakah atau tidak,” jelasnya.
Kiai
Abd Rahman mengaku miris dengan tatakrama anak zaman now dalam mencari
ilmu. Guru hanya difungsikan sebagai pengajar dan ditempatkan dalam
hubungan belajar-mengajar, sehingga guru disamakan dengan temannya.
“Anaknya
sudah begitu. Orang tuanya juga tak ada penghormatan kepada guru atau
kiainya. Yang begitu itu sulit mendapat ilmu yang barakah,” urainya. (Aryudi Abdul Razaq/Muiz)
Sumber : NO Online

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar yang baik !