Jakarta, NU Online
Memburu
ilmu merupakan kewajiban bagi segenap manusia. Tetapi, mendapat
pengetahuan bukanlah tujuan utama. Pasalnya, jika sekadar ilmu, Iblis
jauh lebih berilmu. Ia mampu menjelaskan syariat para Nabi secara
detail.
Habib Umar bin Hafidz menyampaikan
bahwa hakikat ilmu itu bersihnya hati. Hal itu ia sampaikan saat
telekonferensi pengajian kitab Adabul Alim wal Muta'allim karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari pada Rabu (5/9) di Gedung PBNU lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.
Pengasuh
Pondok Darul Mustofa, Tarim, Hadramaut, Yaman itu menyampaikan bahwa
ada tiga cara membersihkan hati. Pertama, katanya, harus banyak
riyadloh, yakni mendekatkan diri kepada Allah.
Kedua,
husnun niyat, memperbaiki niat. Menuntut ilmu, menurutnya, harus karena
Allah swt. Sebab, ilmu tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Jika
tidak diniatkan karena Allah, maka ia akan mendapat azab.
"Azab terbesar mendapat hijab dari ilmunya," katanya.
Terlebih
terdapat hadis yang menyatakan bahwa menuntut ilmu bukan karena Allah,
tidak bakal mencium bau sorga. Ada lagi hadis yang menegaskan bahwa jika
niat mencari ilmu tidak karena Allah, berhak baginya neraka.
"Maka wajib memperbaiki niat kita," tegasnya.
Selain didasarkan karena Allah, niat belajar juga untuk mengamalkan dan mengajarkannya ke orang lain.
Di
samping itu, untuk kebersihan hati perlu menyegerakan belajar dengan
menggunakan waktunya sebaik mungkin tanpa menunda kesempatan.
"Jangan sampai membuat hal-hal yang dapat mengganggu dirinya" tegasnya, "harus fokus," imbuhnya. (Syakir NF/Abdullah Alawi)
Disalin dari : NU Online
Disalin dari : NU Online

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar yang baik !